Manusia pertama adalah Adam, Hawa, Kain dan Habel.

Kain menikah. Lalu makhluk apakah yang dinikahi Kain?
All Truth is God's Truth
Manusia pertama adalah Adam, Hawa, Kain dan Habel.

Kain menikah. Lalu makhluk apakah yang dinikahi Kain?
Orang sering berpikir dengan cara yang aneh:
Jadi:
Allah adalah Allah yang jahat!
Mengapa kamu berkata seperti itu, Domi?
Karena Allah menciptakan neraka. Kalau Allah baik, maka Allah tidak akan menciptakan neraka. Mengapa Allah harus menghukum manusia sekejam itu? Allah jelas-jelas tidak punya kasih.
Suatu hari Tuhan Yesus memberikan perumpamaan untuk menjelaskan seperti apa Kerajaan Surga. Ini diumpamakan seperti seorang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Ia pergi dan menemukan orang-orang yang mau bekerja. Mereka bernegosiasi dan akhirnya sepakat dengan harga 1 dinar untuk hari itu. Sementara mereka bekerja, tuan itu merekrut orang-orang lain yang sedang menganggur, untuk bekerja di kebunnya. Ada yang direkrut dari siang hari, ada juga yang baru sore hari dipanggil.
Saya membayangkan apa yang akan dialami oleh sang pemilik kebun anggur, jika ia hidup pada zaman ini, di Indonesia. Bukankah ia adalah seorang yang sangat tidak adil, memberikan bayaran yang sama, baik kepada orang yang telah bekerja seharian, maupun kepada orang yang bekerja hanya satu jam saja? Bagaimana jika suatu hari gurumu mengatakan, “Baiklah anak-anak, karena saya sedang senang hati, ulanganmu yang terakhir saya beri nilai 100 semua.” Kamu yang waktu itu tidak belajar akan begitu gembiranya hingga memukul-mukulkan kepalamu ke tembok. Tetapi bagaimana perasaanmu jika kamu telah belajar dengan keras selama dua bulan hingga tidak makan maupun minum?
Sering orang mengajukan suatu keberatan, kalau Allah ada, mengapa kok kita melihat orang-orang banyak yang menderita? Kalau Allah memang baik, mengapa Allah membiarkan kita menderita?
Kita sering cuma lihat dari satu sisi. Bukankah kalau orang tuamu atau gurumu memarahimu, kamu sering merasa kalau mereka tidak berhak memarahimu? Kita selalu merasa diri kita tidak seharusnya dimarahi. Kita selalu merasa diri kita yang dirugikan. Tetapi bagaimana kalau kamu bertukar posisi dengan mereka? Kamu baru akan mengerti, mengapa mereka marah. Begitu juga dengan Allah. Kita sering cuma melihat dari sisi manusia berdosa yang sedang dihukum Allah. Kita hanya bisa protes dan mengkritik Allah begini begitu. Kita tidak pernah coba memahami, mengapa Allah sampai menghukum manusia. Kita tidak pernah mencoba memahami, apa yang sebenarnya telah manusia lakukan sehingga manusia dihukum Allah.
Stres? Cobalah melepaskan beban dalam hatimu dengan cara menembak buah-buahan ini. Saya jamin kamu akan tambah stres.
Budi dan Bidu adalah musuh bebuyutan. Bantulah Budi untuk melawan Bidu.
... dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.
- Amsal 8:30-31
Puncak kenikmatan Allah adalah ketika Allah menciptakan manusia. Manusia adalah potret Allah sendiri.
Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik.
- Kejadian 1:31
Kalau kita membaca kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, kita akan melihat bahwa pada akhir setiap hari penciptaan (kecuali hari kedua), Allah sangat menikmati ciptaanNya.
Apakah tujuan utama hidup manusia?
Tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah serta menikmati Dia selamanya.
- Katekismus Singkat Westminster - Pertanyaan 1
Jangan salah mengerti dengan judul tulisan ini. Ini bukan mengenai teologi kemakmuran atau semacamnya. Ini adalah mengenai kenikmatan dipandang dari sudut pandang Alkitab.
Beberapa orang yang saya kenal sering menuduh Tuhan di perjanjian lama sebagai Allah yang pemarah dan sadis. Memang sepintas kelihatannya seperti itu. Di Perjanjian Lama Allah seperti belum dewasa dan sering ngambek. Beda sekali dengan figur Allah di perjanjian baru yang sepertinya lebih matang, lebih dewasa, sabar, berlapang dada, dan rendah hati. Mengapa bisa begini ya?
Dalam hidup ini yang terpenting bukan uang.
Kenapa?
Banyak hal yang lebih penting daripada uang.
Misalnya?
Misalnya kesehatan. Manusia tidak mungkin membeli kesehatan.
Siapa bilang? Kalau kamu sakit, kamu perlu uang untuk berobat ke dokter. Berarti kamu sedang menukarkan sejumlah uang untuk sebuah kesehatan. Kalau kamu tidak punya uang, maka kamu tidak bisa memperoleh hal itu.
Mengapa manusia yang jahat bisa menindas fakta bahwa Allah ada? Apa hubungannya? Saya mengerti hal ini dari percakapan antara dua orang profesor berikut.
Suatu ketika seorang profesor, namanya Ron Carlson, selesai memberikan ceramah mengenai kesalahan-kesalahan Darwinisme, yaitu ajaran Darwin tentang evolusi. Lho kok tadi ngomongin Allah ada kok nyambungnya Darwinisme? Karena filosofi dalam Darwinisme menolak adanya Allah. Nah, Ron Carlson makan sambil berbincang-bincang dengan seorang profesor biologi yang menghadiri ceramahnya. Carlson bertanya kepadanya, "Bagaimana menurutmu ceramahku tadi?"
"Yah, yang kamu ngomong tadi benar dan sangat masuk akal. Tapi saya tetap akan mengajarkan Darwinisme."
^18^ Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. ^19^ Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. ^20^ Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. - Roma 1:18-20